Pages

Jumat, 07 September 2012

Adat kematian Jawa tengah(kesripahan)


  • Upacara Brobosan
Salah satu upacara tradisional dalam adat istiadat kematian jawa adalah upacara Brobosan. Upacara Brobosan ini bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga kepada orang tua dan leluhur mereka yang telah meninggal dunia. Upacara Brobosan diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal, sebelum dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua.Tradisi Brobosan dilangsungkan secara berurutan sebagai berikut: 1) peti mati dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai, 2) anak laki-laki tertua, anak perempuan, cucu laki-laki dan cucu perempuan, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka (mrobos) selama tiga kali dan searah jarum jam, 3) urutan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama; anak yang lebih muda beserta keluarganya mengikuti di belakang.

  • Nelung Dina
    adalah upacara doa atau tahlilan yang diselenggarakan pada ke-tiga hari dari hari kematian. Dilaksanakan secara individu atau berkelompok untuk memperingati kematian seseorang. Setelah tahlilan biasanya diadakan acara makan bersama yang telah disediakan oleh tuan rumah.Kadang-kadang, sebelum atau sesudah slemetan dilaksanakan, sanak keluarga dapat mengunjungi makam saudara mereka.
  • Mitung Dina, diselenggarakan pada hari ke-tujuh dari hari kematian.
  • Matang Puluh, diselenggarakan pada hari ke-empat puluh dari hari kematian, dan
  • Nyatus Dina, diselenggarakan pada hari ke-seratus dari hari kematian.
  • Kematian Mendhak
Upacara tradisional ini dilaksanakan tiga kali dalam seribu hari setelah hari kematian: pertama disebut Mendhak Pisan, upacara untuk memperingati satu tahun kematian (365 hari); kedua disebut Mendhak Pindho sebagai upacara peringatan dua tahun kematian; ketiga disebut sebagai Mendhak Telu atau Pungkasan atau Nyewu Dina, yang dilaksanakan pada hari ke seribu setelah kematian.
Menurut kepercayaan Jawa, setelah satu tahun kematian, arwah dari saudara yang diperingati kematiannya tersebut telah memasuki dunia abadi untuk selamanya. Menurut kepercayaan juga, untuk memasuki dunia abadi tersebut, arwah harus melalui jalan yang sangat panjang; oleh karena itu penting sekali diadakannya beberapa upacara untuk menemani perjalanan sang arwah.


  • Upacara nyewu dina 

Inti dari upacara ini memohon pengampunan kepada Tuhan. Perlengkapan upacara: – Golongan bangsawan: takir pentang yang berisi lauk, nasi asahan, ketan kolak, apem, bunga telon ditempatkan distoples dan diberi air, memotong kambing, dara/merpati, bebek/itik, dan pelepasan burung merpati. – Golongan rakyat biasa: nasi ambengan, nasi gurih, ketan kolak, apem, ingkung ayam, nasi golong dan bunga yang dimasukan dalam lodong serta kemenyan.Upacara tersebut diadakan setelah maghrib dan diikuti oleh keluarga, ulama, tetangga dan relasi.

    3 komentar:

    1. siapa kah yang pertama kali melakukan adat ini?? -sekedar nanya aja- sultan siapa atau raja siapa??

      BalasHapus
      Balasan
      1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

        Hapus
    2. terimakasih kaka...

      BalasHapus