Pages

Minggu, 01 Januari 2023

Goodbye 2022, Welcome 2023

 1 Januari 2023, 00:00 WIB.

Waktu dimana sebagian orang berkumpul dengan teman, keluarga, atau orang tercinta. Menikmati malam pergantian tahun sambil memandang letusan kembang api yang memghiasi langit.

Diwaktu yang sama aku berbaring sendiri di kamarku yang dingin sembari mendengar letupan kembang api yang mulai bergemuruh di luar menandakan pergantian tahun. Sebagian besar orang menyambut tahun 2023 dengan suka cita. Tapi aku tidak. Dikala sebagian orang membuat harapan yang baru di awal tahun, aku justru ingin sekali lari dari kehidupanku saat ini. Seandainya parallel universe ada, aku benar-benar ingin pindah kesana saja walaupun tidak tahu takdir seperti apa yang menanti disana. Rasanya aku ingin pindah ke dunia isekai saja seperti kisah-kisah yang sering kubaca di webtoon atau webnovel. Konyol? Memang.

Tahun yang baru artinya umurku juga akan bertambah. Tapi hidupku tidak ada kemajuan. Tidak ada yang istimewa atau bisa dibanggakan. Pekerjaan tetap tidak punya, pacar tidak punya, tujuan hidup juga tidak. Kenapa ya aku hidup seperti ini?

Kepulanganku ke rumah beberapa hari yang lalu semakin menambah beban pikiran. Tekanan dari orang tua untuk segera menikah terasa menyesakkan. Terkadang aku ingin kabur dan sembunyi saja seperti yang kakakku lakukan dulu. Rasanya aku tidak ingin kembali ke rumah saja. Bahkan bernapas disana terasa sesak. 

2 Januari 2023

Hari ke-2 di tahun 2023 dan aku mengawalinya dengan sempurna. Pagi ini ketika aku membuka akun instagram, tanganku gatal ingin membuka story yang diposting dari salah satu akun yang aku berteman dengannya. Aku tidak menyesal sudah melakukannya, karena setelahnya aku menyadari bahwa aku sudah patah hati. Ya, laki-laki yang sudah aku taksir selama bertahun-tahun akhirnya punya pacar. Orang yang sama yang aku confessed lewat WA 2 tahun lalu. Ya, lewat WA, karena kalau ngomong langsung aku bisa mati karena malu. Walaupun setelahnya aku insecure dan putus asa di tengah jalan hingga tidak melanjutkan PDKT-nya. 

Aku pikir aku sudah menyiapkan hati untuk kemungkinan ini, karena sudah lama tidak ada komunikasi dengannya. Dia pasti menganggapku tukang ghosting. Aku pikir aku pasti akan baik-baik saja walaupun tiba-tiba dia mengirim undangan pernikahan. Tapi ternyata tidak. Rasanya tetap sakit. Jadi seperti ini ya rasanya patah hati. 

Mungkin ini jawaban dari doaku di penghujung tahun 2022. Aku berharap Tuhan menunjukkan padaku apakah aku harus bergenti atau terus mengharapkannya. Tenyata sudah saatnya berhenti. Aku akan melepaskannya dengan perasaan ringan. Aku menyukainya sejak SMA. Tanpa sadar aku terus menyimpan perasaan itu meski tidak pernah ada komunikasi setelah lulus . Dan aku tidak pernah menyesal pernah mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Karena itu adalah pertamakalinya aku jujur pada perasaanku. Goodbye cinta SMAku.

Setelah ini aku akan melanjutkan kehidupanku. Aku tidak akan ragu lagi untuk membuka hati untuk siapapun. Aku juga akan berusaha memperbaiki kehidupanku. 

Terimakasih 2022.

Rabu, 23 Desember 2020

Goodbye 2020, Welcome 2021

 Hallo...

Sudah sangat lama ya sejak terakhir kali saya posting di blog ini. Terakhir 2014 artinya 6 tahun lalu. Dan hebatnya saya masih ingat username dan password untuk login kesini. Ngomong-ngomong saya masih belum lulus kuliah ketika terakhir menulis postingan, dan sekarang saya bahkan sudah bekerja dan merantau di kota orang haha.

Tinggal menghitung hari untuk pergantian ke tahun 2021. Tahun 2020 sudah hampir terlalui. Begitu banyak cerita dan perasaan di tahun 2020. Tahun ini benar - benar tidak mudah ya, terutama karena pandemi yang mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan kita.

Untuk saya sendiri rasanya tidak terlalu banyak yang bisa saya ceritakan. Tapi tentunya ada beberapa hal yang saya syukuri. Saya  bersyukur masih bisa hidup hingga sekarang. Saya masih rapuh seperti dulu, tapi sekarang setidaknya saya sudah lebih siap untuk menghadapi apapun.

Saya juga bersyukur masih bisa bekerja hingga saat ini ketika banyak orang di luar sana yang kehilangan pekerjaanya. Meski gaji saya tidak besar setidaknya masih bisa untuk menghidupi diri saya sendiri dan tidak menyusahkan orang tua.

Oya tahun ini umur saya 25 tahun dan saya masih single haha. Satu persatu teman saya sudah menikah, bahkan keponakan saya sudah 3 tahun ini. Untunglah saya anak terakhir jadi tidak terlalu dituntut buru-buru nikah. Well saya bukannya gak pengen, cuma saya merasa belum menemukan yang sreg aja. Ada sih seseorang yang saya sreg tapi saya gak yakin dia punya perasaan yang sama ke saya haha.

Lagipula sebelum melangkah ke arah sana ada beberapa hal yang ingin saya selesaikan. Saya ingin menghilangkan ketakutan saya akan pernikahan. Saya ingin belajar menerima orang lain di hidup saya. 

Sekian curhat akhir tahun saya, bye...

Senin, 30 November 2015

MAAF

Ada banyak hal yang kusesali selama setahun ini. Waktu satu tahun terasa begitu cepat. Tanpa aku sadari aku telah melangkah jauh. Seharusnya banyak hal yang telah kulakukan. Tapi nyatanya banyak hal yang kusesali. Penyesalanku bukan tanpa alasan. Banyak hal yang sebenarnya bisa kelakukan dengan baik tapi tak bisa kulakukan dengan baik. Banyak hal yang bisa kuantisipasi tapi aku tidak melakukannya. Banyak hal yang sebenarnya bisa kucegah tapi aku tak melakukannya.
Ingin mengeluh tapi pada siapa? Pada kalian yang ‘Kuanggap’ kupercaya? Sedangkan kalian adalah salah satu hal dalam penyesalanku. Maka aku hanya bisa bilang ‘maaf, maaf, dan maaf...’


Senin, 26 Oktober 2015

Hari Blogger Nasional

Baru aja liat di trending topic twitter kalo hari ini 27 Oktober 2015 adalah #HariBloggerNasional
Wah, selamat hari blogger nasional semuanya. Semoga blogger - blogger indonesia makin kreatif.

Jujur kalo aku masih merasa belum pantas disebut blogger karena jarang posting dan sekali posting pun kadang gaje hehe. Moga - moga postinganku lain kali lebih bermanfaat ya :D

20 Tahun

20 tahun.
Aku akhirnya sadar betapa tuanya aku ketika tanggal 24 Oktober kemarin. Oke fine, digit pertama sekarang udah jadi angka 2. 2 dekade sejak pertama kali aku menghirup udara di dunia ini. Rasanya liat angka 20 gimana gitu, tiba-tiba aku ngerasa aku bukan remaja lagi hehe, lebay.

Well, ultahku ke 20. Aku gak pernah menganggap terlalu spesial hari kelahiranku sih. Di tahun – tahun sebelumnya dilaluin seperti hari – hari biasa. Tidak ada perayaan, hanya ucapan dan doa dari orang – orang dekat atau dari teman di medsos. Ah, ada yang inget aja aku udah seneng kok. Seenggaknya itu menyadarkanku kalo aku masih punya orang – orang yang peduli. Tapi setiap tanggal 24 Oktober juga selalu mengingatkanku untuk menoleh lagi ke belakang. Di umur segitu apa hal berguna yang udah aku lakuin? Sejauh mana aku bisa mencapai mimpiku?

Untuk tahun ini mungkin sedikit berbeda. Ucapan dan doa tetap datang dari teman – teman dan keluarga. Dan, ada perayaan kecil dari temen deketku Rosyi. Sebuah cake manis dan kado. Thanks banget deh buat dia, pertamakalinya dalam hidupku ada yang ngasih kue di hari ultah. Dan perayaannya pun di tempat yang istimewa, Taman Pelangi Jogja. Setelah dua tahun di Jogja akhirnya kesana juga.
pertamakali dapet kue di hari ultah

thanks Rosyii atas kejutannya n foto2nya haha


Beberapa hari sebelum tanggal 24 tiba – tiba aku seperti mendapat sebuah pencerahan. Ini terkait masa depanku kedepannya. Entah kenapa niat untuk melanjutkan pendidikan ke S1 tiba – tiba muncul. Nggak tanggung – tanggung, targetku selanjutnya adalah IPB. Sebenernya udah kepikiran agak lama si pengen lanjut di sana, cuma masih ragu. Dan sekarang bener – bener yakin pengen kesana. Bahkan aku udah cari segala info tentang pendaftaran, sampe – sampe mintain nomer kakak angkatan yang lanjut kesana. Banyak faktor kenapa aku memutuskan untuk ke IPB. Salah satunya buat menghemat biaya, khusunya biaya hidup. Soalnya aku ada paman di Bogor dan deket kampus IPB  jadi kan aku gak perlu pusing mikirin biaya kos sama makan.

Masalahnya sekarang adalah, kalo aku lanjut tahun depan aku harus mulai ngumpulin duit dari sekarang. Ortu udah bilang dari awal kalo aku mau lanjut harus cari biaya sendiri. Bukannya tega sama anaknya, tapi kondisi keuangan emang udah gak seenak dulu. Lagian aku juga cukup malu kok kalo masih ngerepotin ortu dengan biaya kuliah, walopun itu buat pendidikan. Tapi aku udah mutusin kalo kuliahku nanti aku pengen biayain sendiri, nggak mau nyusahin ortu lagi.


Dan sekarang aku makin mantap melangkah kedepan #ceileh. Setidaknya aku udah punya gambaran untuk beberapa tahun ke depan. Tinggal cari cara buat mewujudkannya aja. Bismillah, semoga bener – bener bisa langsung lanjut tahun depan. Kalo nggak tahun depan insyaAllah 2017 hehe.

Kamis, 01 Oktober 2015

Home

Ketika tempat yang kuanggap 'rumah' susah tak lagi memberiku kenyamanan. Siapa yang salah?

Pasti ada seauatu yang salah dengan diriku...

Jumat, 18 September 2015

Angin

Aku hanya membiarkannya lewat
Tanpa berniat mengentikannya
Ingin menyentuhnya, tapi tak bisa
Yah, setidaknya...
Aku bisa merasakan kehadirannya
Kala ia datang dengan bisikan lembut
Aku bisa, mendengarnya...
Saat ia menyapa dengan sentuhan ringan.
Aku bisa, merasakannya.
Dia ada.
Angin....

Minggu, 16 Agustus 2015

Menghilang

Adakah cara bagi manusia untuk menghilang sejenak?
keluar dari kesibukan dan rutinitas. Pergi ke dunia lain yang tak ada seorang pun yang mengenal, atau dikenal. Dunia yang baru dimana aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan. Tidak perlu berpikir tentang kewajiban dan orang - orang disekitarku.
Tak ada rasa takut, tak ada rasa tertekan.
Menghilang sejenak, tanpa jejak.

Pemikiran yang aneh, dari orang yang aneh.
Sesuatu yang mustahil, kan?
Aku hanya ingin berlari, saat ini.

Jumat, 24 Juli 2015

Menembus Batas

Sejauh mana lagi aku harus berlari?
Melampaui batas.
Apakah batas itu benar-benar ada?
Atau hanya kiasan agar kehidupan berjalan seirama dengan waktu?

Batas, mungkin itu tidak benar-benar ada. Karena kehidupan terus berkembang.

Selasa, 21 Juli 2015

Catatan Lama

Membuka kembali catatan lama, dua tahun lalu. Ketika pikiran masih begitu labil. Lucu.

Namun perlahan aku menyadari, arti penting catatan harian. Catatan harian adalah ungkapan perasaan dari masa lalu. Seperti sebuah rekaman yang bisa kita putar lagi sewaktu-waktu. Catatan harian adalah sepenggal jejak dari kisah sehari-hari kita di masa lalu. Ibarat film yang bisa kita tonton lagi.
Tapi catatan harian juga tolak ukur untuk melihat diri kita sekarang ini.

Dulu aku bertanya-tanya, menjadi dewasa itu seperti apa?

Setelah dua tiga tahun berlalu. Aku melihat ke diriku yang dulu dengan pemikiranku dulu. Berbeda. Tentu saja. Rasanya lucu ketika aku mengingat pikiranku dulu.
Mungkin itu salah satu proses kedewasaan.

Membaca catatan harian lama membuatku merasa seolah-olah aku sedang berbicara dengan aku yang dulu. Ada rasa senang, aneh, marah, kasihan, sedih, dan...
Malu.

Ya, aku malu pada diriku yang dulu ketika aku melihat impian-impianku dulu, dan kini bahkan tidak tersisa lagi dipikiranku. Aku malu pada visi dan argumen-argumenku dulu, sementara kini aku begitu mudah menyerah. Aku malu karena aku merasa lemah dibandingkan aku yang dulu.

Kenapa aku bisa melupakannya? Kenapa aku tidak mengingatnya disaat-saat aku mulai bimbang. Kenapa semangat dan angan-angan yang dulu kugoreskan seakan luntur begitu saja?

Senin, 25 Mei 2015

HUJAN

Hujan
Kau tau betapa aku merindukanmu?
Setiap tetes yang engkau kirimkan ke bumi
Mengantarkan pesan kedamaian
Membasahi jiwa – jiwa yang kering

Hujan
Tahukah kau?
Setiap denting jatuhmu
Menyenandungkan pujian
Betapa Sang Pencipta bermurah hati pada setiap insan

Tampaknya hujan tak akan datang dalam waktu dekat. Di siang hari panas matahari terik membakar. Pepohonan mulai terselimuti debu. Ah, rupanya kemarau telah tiba. Entah mengapa aku jadi agak sedih.

Meskipun musim kemarau juga anugerah dari Tuhan, tapi aku merindukan dinginnya air yang menetes satu – satu ke bumi. Aku merindukan aromanya yang segar. Merindukan suara ketika suara air yang bertabrakan dengan genting terdengar...seperti melodi.
Meskipun hujan menyebabkan genangan air dimana – mana, tapi aku tahu hujan telah memberikan kehidupan untuk bumi.


Sesering apapun ia turun, tidak akan pernah sama. Meski air yang dijatuhkannya sama wujudnya, namun air hujan hari ini tidak akan sama dengan air hujan kemarin, kemarin lagi, dan kemarin lagi. Hujan membawa ceritanya masing – masing. Mungkin hujan kemarin ia jatuh di jalanan. Kemudian mengalir ke sungai dan menguap lagi menjadi awan – awan di langit. Lalu hari ini ia turun kembali, tidak di jalanan tapi diatap rumah. Dan dia pun memulai lagi kisahnya.
Ketika kaki untuk berpijak tak mampu lagi untuk melangkah
Tangan yang tak mampu lagi berpegang
Mulut tak mampu lagi berkata
Hanya hati yang berbicara

Bolehkah aku menangis sekarang?

Selasa, 19 Mei 2015

Lelah

Rasanya ingin meledak dengan segala rutinitas ini. Pekerjaan yang tak pernah ada habisnya. Tuntutan yang merongrong agar semua dikerjakan dengan tepat dan cepat. Percuma saja meminta pengertian. Karena semua pasti ingin dinomorsatukan, dipedulikan. Mau bagaimanapun aku menjelaskannya pun tak berpengaruh. Karena semua akan berbalik kepadaku.

Liburan, hiburan, tidur. Nyatanya itu semua tak membantu sama sekali menyelesaikan semua ini. Kesenangannya hanya terasa sekejap, saat itu.

Kemarin ada adik angkatan yang curhat sedang banyak masalah, katanya dia rasanya ingin kembali ke masa kecil yang mikirnya gak berat – berat, Cuma main dan belajar. Mendengarnya aku jadi tersenyum juga. Karena aku juga merasa hal yang sama. Dulu ketika kecil ingin segera dewasa, tapi setelah dewasa, punya banyak pekerjaan dan masalah jadi ingin kembali ke masa kecil. Lucu ya? Tapi itu bagus sih, karena artinya kita telah membuat suatu perbedaan kan? Kita telah bergerak, tidak stagnan di tempat.

Tapi tetap saja, aku bingung harus menyelesaikan darimana. Karena waktuku sama dengan yang lain, 24 jam sehari. Anggota badanku juga sama seperti yang lain, hanya punya 2 tangan, 2 kaki, 2 mata, dua telinga, dan satu mulut. Rasanya untuk bernapas pun susah.

Setiap waktu pasti ada yang harus dilakukan, setiap detik pasti ada yang dikerjakan. Tapi benarkah aku sudah melakukan sesuatu yang bermanfaat? Apa yang selama ini aku kerjakan apa benar – benar menghasilkan sesuatu? bahkan setelah semua waktu yang kugunakan pun aku masih bertanya – tanya apakah aku telah melakukan sesuatu?

Senin, 18 Mei 2015

Separuh jiwa

Separuh jiwaku ingin terbang bebas, namun sebagian lagi ingin tetap bertahan

Jumat, 20 Februari 2015

pesan untukku

Aku adalah diriku sendiri. Tidak peduli apapun amanah dan tuntutanku, aku harus tetap menjadi diriku sendiri. Jangan mengubah dirimu menjadi orang lain. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Karena Allah menciptakan setiap manusia dengan keistimewaan sendiri-sendiri. 

Kamis, 16 Oktober 2014

Pantai Siung, Gunungkidul

Assalamu’alaikum yaa akhi yaa ukhti…

Hai hai hai…! #Heboh

Kali ini aku kembali menyapa dengan sekelumit cerita tentang plesiranku, ehm…aku sebenernya lebih suka menyebutnya refreshing pra-UTS. Tapi apapun itulah yang jelas ingin berbagi sedikit cerita.

Jadi ceritanya pas hari rabu kemaren tiba – tiba Alfi, temen sekamarku dulu di asrama BSR bbm aku. Dia ngajakin aku main ke pantai, berempat sama temennya dari Kediri. Karena hari itu kebetulan nggak ada kegiatan ya udah aku iyain aja. Bilangnya si waktu itu mau ke pantai Kukup, tapi realisasinya malah jadinya ke Siung. Tapi ya gak papa deh.

Akhirnya hari Sabtu, 11 Oktober 2014 kami go ke Gunungkidul. Pagi – pagi Alfi sama temennya jemput ke kosanku. Abis isi bensin kami sarapan dulu biar bertenaga, hehe. Oh ya, nggak lupa kenalan juga sama temen – temennya Alfi namanya Nia sama Rista. Mereka berdua temen SMA Alfi dan lagi liburan ke Jogja.

Abis makan kami melanjutkan perjalanan. Eh eh, ternyata kita nggak langsung ke pantai tapi mampir dulu ke Embung Nglenggeran. Jalan menuju ke embung nggak terlalu bagus, butuh perjuangan. Tapi pemandangan sepanjang jalannya itu loh…gunung api purba broo… Belom pernah naik si ke atas, tapi kata Alfi butuh waktu satu setengah jam buat sampe ke atas gunung. Setelah bayar tiket masuk plus parkir kami langsung ke tempat tujuan. Baru sampe parkirannya aja udah bagus bangettt…
view dari parkirannya

Buat sampe ke Embung Nglanggeran-nya kita harus naik beberapa tangga, nggak terlalu capek si. Kebetulan kita sampe sana sekitar jam 9 jadi pengunjungnya masih sepi. Akhirnya sampailah kami diatas. Ternyata embung ini mirip seperti waduk, tapi lebih kecil. Sebenernya kalo menurutku embungnya biasa aja sih. Yang bikin jadi luar biasa itu pemandangan yang melatarbelakanginya. Ada gunung api purba dan pemandangan dibawah. Wow, berasa ada diatas awan #lebay. Seperti biasa, tradisi wajib ketika ada tempat bagus adalah foto – foto hehe…





Setelah sekitar satu jam disana kami pun turun. Sekarang lanjut ke tujuan wisata selanjutnya. Pantai…

Di Gunungkidul sebenarnya ada puluhan pantai yang bisa dikunjungi. Tapi sejauh ini aku Cuma pernah ke tiga pantai; Krakal, Kukup, sama yang sekarang ini, Siung. Pantai – pantai di Gunungkidul tuh bagus – bagus. Pasirnya putih, ombaknya gede tapi cukup aman buat main – main, dan banyak karangnya. Sebenernya seneng aja sih kalo diajakin main ke pantai di Gunungkidul, tapi yang bikin males tuh…perjalanannya. Jarak dari kota Jogja ke Gunungkidul butuh waktu hampir dua jam-an pake motor, dengan kecepatan pembalap tentunya hehe. Tapi perjalanan yang melelahkan rasanya terbayar ketika mendengar deburan ombak dan merasakan dingginnya air laut.


Sepanjang perjalanan kami menemui  bus – bus besar yang membawa wisatawan dengan tujuan yang sama, pantai. Tiket masuk ke sini sebesar 4500/orang. Akhirnya setelah melalui jalan yang berliku sampailah di pantai Siung. Di sini nggak terlalu ramai, bahkan ketika kami sampai disana Cuma terlihat beberapa warga yang membuka usaha di dekat pantai dan orang – orang yang camping. Kalo dibandingkan Krakal atau Kukup pantai Siung emang masih kalah bagus si. Tapi yang jadi nilai plus disini adalah nggak terlalu rame. Cocok buat kalian yang emang pengen ketenangan. Bibir pantainya nggak terlalu panjang dan pasirnya kalo aku liat lebih banyak kerikilnya dibanding pantai lain. Disini juga bisa nyewa tiker kalo nggak bawa tiker. Satu tiker Cuma Rp 10.000.


Begitu ngeliat air laut nih kaki rasanya gatel pengen nyemplung. Dari awal kita emang berencana mau nyemplung si hehe. Jadi setelah ganti baju kami mulai bergelut sama air laut. Brrr…asin(hloh?) :D

Sekitar jam setengah duabelas kami mulai ‘mentas’. Disana kalo kalo mandi bayar Rp2000/orang. Catat, per orang bukan per kamar mandi. Tapi yang bikin aku merasa miris itu pas aku sholat di musaholanya. Kondisinya kotor dan nggak terawat. Lantai, bahkan sajadahnya berdebu. Padahal jarak dari tempat kamar mandinya cuma dua meteran. Kamar mandinya aja bersih dan terlihat terawat, tapi mushola yang notabene tempat ibadah malah kurang terawat.

Dan berakhirlah perjalanan kami hari itu. Perjalanan ditutup dengan makan mie ayam dan…ditilang polisi. Loh kok?

Haha iya, jadi kami tuh sebenernya nggak terlalu inget jalan. Trus kami nyasar entah kemana. Karena kurang fokus pas di lampu merah, kami salah jalan dan alhasil disempriti pakpol haha…terimakasih buat pakpol atas kenang – kenangannya.

Hm…sekian cerita kali ini, nantikan kisah – kisah yang lain hehe.



Jumat, 26 September 2014

Kisahku Bersama UMMATI



Kehidupan kampusku tidak akan membosankan.

Kehidupanku di kota pelajar ini akan lebih bermakna.

Kehidupanku akan lebih berwarna.

Dan disinilah aku memulainya.

Semua berawal di bulan September 2013. Ketika hiruk pikuk mahasiswa baru mulai mewarnai gedung yang terletak di salah satu sudut Universitas Gadjah Mada. Aktivitas perkuliahan mulai menyapa hari – hari maba(mahasiswa baru). Banyak diantara maba yang masih menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus yang sama sekali berbeda dengan masa SMA. Tak heran jika dalam beberapa minggu setelah aktivitas perkuliahan dimulai masih terdengar sapaan perkenalan. Beberapa telah membentuk kelompoknya sendiri. Sisanya masih mencari – cari sosok teman yang mungkin akan menjadi teman yang tak terpisahkan.

Bagaimana denganku?

Ini adalah tantangan berat bagiku. Aku terlanjur menyadari bahwa aku bukan orang yang mudah beradaptasi di lingkungan baru. Jadi aku tidak heran ketika aku selalu berjalan sendiri di kampus selama hampir satu minggu. Bukannya aku tidak kenalan dengan teman – teman sekelas, hanya saja ketika sehabis kenalan maka hanya itu yang terjadi. Aku bukan orang yang pandai mengobrol. Ada sedikit perasaan iri dengan Alfi, teman sekamarku di asrama yang begitu mudah akrab dengan orang lain bahkan yang baru dikenal sekalipun. Tipe orang yang supel.

Aku masih ingat saat itu aku berdoa kepada Tuhan, semoga aku segera mendapatkan teman dekat di kampus biar aku nggak kemana – mana sendiri. Dan alhamdulillah besoknya Tuhan mengabulkan doaku. Seorang gadis asal Lamongan bernama Nilda. Entah kenapa aku baru menyadari kalau kami selama ini sekelas haha…Entah kenapa kami pun jadi dekat. Pergi ke kampus bareng, pulang bareng, kemana – mana bareng. Meski dia agak usil kadang – kadang, tapi dia baik dan nggak sombong.

Lalu suatu hari kami dapat SMS dari Ummati. Isinya menginformasikan tentang kajian yang akan diadakan pada Kamis sore. Karena dari ospek emang aku udah niat mau ikut Ummati, jadi aku berencana dateng sekalian mau kepo – kepo. Tak lupa aku ajak teman baruku juga, dan Nilda dengan senang hati setuju.

Maka disanalah kami. Sehabis sholat ashar di depan mushola. Dengan langkah malu – malu dan canggung menerima setiap jabatan tangan dan salam dari ukhti – ukhti yang ramah. Sungguh sambutan yang hangat. Disanalah aku pertama kali mengenal mba Lala, yang menjadi Kadept ku saat ini. Sesuai niat awal, aku pun mulai kepo – kepo tentang kegiatan ummati sama mba Lala. Aku masih ingat bagaimana mba Lala begitu senang katika aku bilang ingin daftar departemen media, hehe.

Lalu beberapa minggu kemudian ketika ada pengumuman oprec ummati aku pun dengan mantap mengambil formulir. Pilihan satu udah pasti Media Ummati, soalnya emang pengen belajar jurnalistik juga si. Pilihan kedua Foreks. Beberapa waktu kemudian pengumuman diterima terpajang. Dan…yes, aku diterima di departemen Media :D

Waktu terus berjalan. Kuliah tetep berjalan dengan lancar seperti biasa. Kajian ba’da ashar setiap kamis masih kuikuti. Lalu aku mulai mengenal beberapa kakak – kakak ummati akhwat dan teman – teman 2013 yang juga mendaftar ummati. Lalu aku juga mulai mengenal teman – teman satu departemen, mas Rega, mas Ardyan, mba Dyan, mba Nisa, mas Bondan, mas Ucup, mba Ulfa,mas Wafi, mas Anggar, Aci dan Ciciek, dan tentu juga mba Lala. Aku sangat senang ketika disini aku diberi kesempatan untuk pertama kalinya dalam membuat U-Magz. Aku dengan dibantu mba Dyan membuat bagian riset. Ini pengalaman baru buatku, dan aku sangat antusias. Akhirnya dengan perjuangan keras U-Magz edisi 1 tahun 2013 terbit. Aku tak berhenti senyum – senyum ketika tulisanku terpajang manis disana, lengkap dengan namaku. Ini pertama kalinya, tulisanku dicetak dalam bentuk majalah hehe…walaupun masih majalah kampus.

Tidak berapa lama ada Ta’um(Ta’aruf Ummati). Disini jadi kenal sama teman – teman ummati yang lain. Disinilah tali kasih bernama ukhuwah mulai terajut dengan manis.
Lalu kabar buruk itu datang. Setelah libur idhul adha, sahabat pertamaku Nilda mengatakan kalau dia nggak bisa ngelanjutin kuliah di UGM lagi. Aku jelas kaget, karena kegiatan kuliah baru seumur jagung dan dia tiba – tiba akan berhenti. Setelah mendengar penjelasannya aku pun hanya bisa berdoa semoga ini memang jalan terbaik yang dia pilih.

Dan kehidupan kampusku terus berlanjut. Sudah tidak sesepi sebelumnya karena aku mulai mengenal banyak teman. Aku juga mulai belajar organisasi di ummati sedikit demi sedikit. Selain itu aku juga mulai tau bagaimana seharusnya muslimah berpakaian, alasan kenapa muslimah dianjurkan pakai rok(dulu masih suka pake celana jeans :p), lalu cara menutup aurat yang baik dan benar, dan banyak lagi. Intinya aku jadi tau banyak hal yang selama ini aku anggap sepele.
Suatu hari di bulan Desember aku di SMS buat ikut rapat membahas Rabes. Walaupun aku sebelumnya nggak tau apa itu Rabes akhirnya aku tetep dateng. Dan voilaaa…aku diberi amanah jadi panitia Rabes sebagai koor konsumsi. Awalnya rada bingung soalnya aku kan belum pernah terlibat dalam kepanitiaan sebelumnya. Tapi ya udah, dicoba aja dulu. Disinilah aku memulai, untuk pertamakalinya dalam sebuah kepanitiaan.

Dari sini rasa percaya diriku mulai tumbuh. Aku merasa dihargai dan dibutuhkan. Dan aku bertekad kalau aku akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan mereka. Dengan dibimbing mba Panti selaku SC aku pun mulai mengerjakan amanah ini. Aku mulai belajar mengorganisir tugas dengan teman – teman yang lain, belajar menyusun timeline, dan pastinya ngomong. Karena sebagai koor otomatis jadi juru bicara di setiap rapat.

Semua berjalan lancar. Konsumsi tidak kurang, anggaran juga sesuai. Mungkin masih ada beberapa kekurangan sedikit, tapi itu wajarlah kan baru pertama hehe…
Setelahnya aku semakin mantap untuk melangkah bersama Ummati. Berbagai kegiatan membuat ikatan ukhuwah semakin terjalin erat. Aku mulai nyaman disini, bersama mereka.

Disini aku belajar untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Disini aku belajar organisasi.

Disini aku belajar menjaga amanah.

Disini aku belajar membuat hidup lebih bermakna.

Disini aku merasa berharga.

Dan disini aku merasa seperti menemukan sebuah….keluarga. :D


NB: ngggg...lagi - lagi curhat yah? hehe, the next post mungkin "Kisahku Bersma Kopma UGM". Ada yang mau nungguin? enggak juga gak papa sih :3

Setiap Orang Punya Kisah Sendiri

Sekilas tadi dengerin curhat mba kos tentang masa kecilnya dulu. Mungkin lebih tepatnya nguping secara tidak sengaja. Tapi dengan volume yang senyaring itu mau nggak mau cerita itu juga tertangkap organ pendengaranku.

Mendengar curhat singkatnya tadi aku jadi memikirkan masa kecilku yang kisahnya kurang lebih sama. Dari sana aku mulai berpikir dan menyadari satu hal. Setiap orang punya kisah sendiri.
Mungkin jarang terpikirkan oleh kita  ketika sedang bersama dengan orang lain, bagaimana masa lalu dia? Kepahitan apa yang pernah dirasakannya?. Bahkan terkadang kita tidak pernah mengira bahwa orang yang selama ini terlihat ceria, tegar, dan seolah selalu bahagia juga menyimpan kisah kelam dimasa lalu.

Memang sih kebanyakan orang pasti ingin menyimpan kisah masa lalunya untuk sendiri, tidak untuk diumbar. Tapi ketika mendengar kisah orang lain mau tak mau juga mengingatkan kita akan kisah kita sendiri.


Pada dasarnya setiap orang memiliki kisah yang berbeda – beda. Dan dampaknya terhadap hidup mereka pun berbeda. Tapi maksud yang ingin disampaikan oleh Tuhan sama. Sebagai pelajaran.

Bagaimana

Setelah membaca sebuah blog dari seorang kakak senior yang sudah sukses disini.
Jadi teringat perbincanganku pertama kali dengannya yang sampai saat ini masih membekas di pikiranku.
Aku mulai berpikir.
Bagaimana rasanya berjalan sendiri? 
Bagaimana rasanya melangkah tanpa mengikuti orang lain?
Bagaimana rasanya menyusuri jalan hidup dengan mengikuti kehendak hati?

Senin, 01 September 2014

Sahabat UMMATI

       Akhir – akhir ini lagi seneng ngepost di blog setelah sebelumnya absen entah kemana. Mungkin karena semua perasaan selama ini cuma numpuk di pikiran jadi begitu ada mood nulis pengennya ditumpahin semua ke sini.

       Sekarang aku udah semester tiga. Artinya aku udah bukan maba lagi karena udah ada adik – adik tingkat saya yang kini mulai ‘bergentayangan’ di kampus. Wajah – wajah baru yang tidak familiar semakin sering ditemui di sekitar kampus.
Aku lalu melihat ke belakang. Ternyata sudah satu tahun saya disini. Di kampus ini, di kota gudeg ini, dengan berbekal doa dan restu dari orang tua untuk menuntut ilmu di kampus ini. Dalam kurun waktu satu tahun ini, apa saja yang telah aku lakukan? Apa saja perubahan yang telah terjadi?

       Satu tahun bukan waktu yang lama. Namun banyak kenangan yang telah terukir dalam waktu satu tahun ini. Senang rasanya bisa melalui satu tahun ini dengan lancar. Namun ketika menyadari waktu satu tahun itu maka aku juga menyadari satu hal. Ada yang datang, dan ada yang pergi. Ada pertemuan, dan ada perpisahan.

       Satu tahun lalu, ketika status maba masih melekat, ketika euphoria ospek masih terasa, aku bertemu dengan mereka. Mereka yang menyambutku dengan senyuman dan sapaan ramah. Rasa hangat seketika menjalar di sanubari ketika wajah – wajah teduh itu menyambutku. Tidak ada rasa takut, malu, atau tidak nyaman sebagaimana yang biasanya kurasakan ketika berada di lingkungan baru. Saat itu aku berpikir, rasanya aku ingin selalu berada disini, diantara mereka. Hingga akhirnya akupun memutuskan untuk menjadi bagian dari mereka.

       Waktu terus berlalu, hari demi hari, bulan demi bulan, aku mulai hanyut dalam kegiatan perkuliahan. Terkadang rasa jenuh, lelah, putus asa menggodaku untuk menyerah dan berhenti. Namun ketika berkumpul dengan mereka, aku menemukan kekuatanku kembali, aku mulai mengerti alasan aku harus tetap bertahan. Mereka tidak hanya mengajarkanku tentang agama, tapi mereka juga mengajarkanku akan indahnya sebuah persaudaraan yang dilandasi dengan cinta kepada Illahi. Dari sinilah aku mulai memperbaiki niat dan tujuanku. Tak hanya itu, aku pun mulai belajar memahami hakikat hidup yang sesunggunya. Mereka adalah…sahabat – sahabatku UMMATI.

       Mereka adalah orang – orang yang menginspirasiku. Berkat merekalah kepercayaan diriku perlahan mulai tumbuh. Bersama dengan mereka aku merasa berharga. Dan aku merasa bersyukur karena Allah mempertemukanku dengan mereka.

       Selama satu tahun ini banyak kisah yang terukir, banyak emosi yang muncul, tangis dan tawa, senang dan sedih, kecewa dan bangga, semua terpajang dalam bingkai waktu setahun ini. Kajian ba’da ashar di lantai dua yang meski kadang hanya dihadiri anak Ummati, tapi tidak menyurutkan langkah kita untuk terus menebarkan kebaikan di kampus kita.


 Buka puasa bersama, meski dengan menu sederhana namun terasa nikmat karena kebersamaan yang tercipta. 


Wajah – wajah ceria ketika forga.




 Jatuh bangun ketika menjadi panitia SURAU yang terbayar ketika melihat wajah – wajah cerah ini. 





Serunya ketika masak –masak di parkiran kampus. 



Kegiatan ILT yang membuat ukhuwah ini terjalin semakin erat. 



Kunjungan ke panti asuhan Daarut Taqwa. 




       Waktu kita untuk menempuh pendidikan di kampus ini memang tidak panjang. Hanya tiga tahun. Dan mungkin tidak sampai setahun, kalian kakak – kakak yang selama ini telah membimbing kami akan lulus. Periode kepemimpinan akan berganti. Entahlah, aku tidak bisa membayangkan jika tak ada kalian lagi. karena kebersamaan ini sudah seperti keluarga. Pasti…akan kangen sekaliiii…


       Tapi ya seperti yang selalu kalian katakan, semoga setiap pertemuan dan perpisahan yang terjadi atas ridho Allah. Dan, nantinya jikapun harus berpisah semoga dipertemukan  lagi di syurga. Aamiin…