Separuh jiwaku ingin terbang bebas, namun sebagian lagi ingin tetap bertahan
Senin, 18 Mei 2015
Jumat, 20 Februari 2015
pesan untukku
Aku adalah diriku sendiri. Tidak peduli apapun amanah dan tuntutanku, aku harus tetap menjadi diriku sendiri. Jangan mengubah dirimu menjadi orang lain. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Karena Allah menciptakan setiap manusia dengan keistimewaan sendiri-sendiri.
Kamis, 16 Oktober 2014
Pantai Siung, Gunungkidul
Assalamu’alaikum
yaa akhi yaa ukhti…
Hai
hai hai…! #Heboh
Kali
ini aku kembali menyapa dengan sekelumit cerita tentang plesiranku, ehm…aku
sebenernya lebih suka menyebutnya refreshing pra-UTS. Tapi apapun itulah yang
jelas ingin berbagi sedikit cerita.
Jadi
ceritanya pas hari rabu kemaren tiba – tiba Alfi, temen sekamarku dulu di
asrama BSR bbm aku. Dia ngajakin aku main ke pantai, berempat sama temennya
dari Kediri. Karena hari itu kebetulan nggak ada kegiatan ya udah aku iyain
aja. Bilangnya si waktu itu mau ke pantai Kukup, tapi realisasinya malah
jadinya ke Siung. Tapi ya gak papa deh.
Akhirnya
hari Sabtu, 11 Oktober 2014 kami go ke Gunungkidul. Pagi – pagi Alfi sama
temennya jemput ke kosanku. Abis isi bensin kami sarapan dulu biar bertenaga,
hehe. Oh ya, nggak lupa kenalan juga sama temen – temennya Alfi namanya Nia
sama Rista. Mereka berdua temen SMA Alfi dan lagi liburan ke Jogja.
Abis
makan kami melanjutkan perjalanan. Eh eh, ternyata kita nggak langsung ke
pantai tapi mampir dulu ke Embung Nglenggeran. Jalan menuju ke embung nggak
terlalu bagus, butuh perjuangan. Tapi pemandangan sepanjang jalannya itu loh…gunung
api purba broo… Belom pernah naik si ke atas, tapi kata Alfi butuh waktu satu
setengah jam buat sampe ke atas gunung. Setelah bayar tiket masuk plus parkir kami
langsung ke tempat tujuan. Baru sampe parkirannya aja udah bagus bangettt…
![]() |
| view dari parkirannya |
Buat
sampe ke Embung Nglanggeran-nya kita harus naik beberapa tangga, nggak terlalu
capek si. Kebetulan kita sampe sana sekitar jam 9 jadi pengunjungnya masih
sepi. Akhirnya sampailah kami diatas. Ternyata embung ini mirip seperti waduk,
tapi lebih kecil. Sebenernya kalo menurutku embungnya biasa aja sih. Yang bikin
jadi luar biasa itu pemandangan yang melatarbelakanginya. Ada gunung api purba
dan pemandangan dibawah. Wow, berasa ada diatas awan #lebay. Seperti biasa,
tradisi wajib ketika ada tempat bagus adalah foto – foto hehe…
Setelah
sekitar satu jam disana kami pun turun. Sekarang lanjut ke tujuan wisata
selanjutnya. Pantai…
Di
Gunungkidul sebenarnya ada puluhan pantai yang bisa dikunjungi. Tapi sejauh ini
aku Cuma pernah ke tiga pantai; Krakal, Kukup, sama yang sekarang ini, Siung. Pantai
– pantai di Gunungkidul tuh bagus – bagus. Pasirnya putih, ombaknya gede tapi
cukup aman buat main – main, dan banyak karangnya. Sebenernya seneng aja sih
kalo diajakin main ke pantai di Gunungkidul, tapi yang bikin males tuh…perjalanannya.
Jarak dari kota Jogja ke Gunungkidul butuh waktu hampir dua jam-an pake motor,
dengan kecepatan pembalap tentunya hehe. Tapi perjalanan yang melelahkan
rasanya terbayar ketika mendengar deburan ombak dan merasakan dingginnya air
laut.
Sepanjang
perjalanan kami menemui bus – bus besar
yang membawa wisatawan dengan tujuan yang sama, pantai. Tiket masuk ke sini
sebesar 4500/orang. Akhirnya setelah melalui jalan yang berliku sampailah di
pantai Siung. Di sini nggak terlalu ramai, bahkan ketika kami sampai disana Cuma
terlihat beberapa warga yang membuka usaha di dekat pantai dan orang – orang yang
camping. Kalo dibandingkan Krakal atau Kukup pantai Siung emang masih kalah
bagus si. Tapi yang jadi nilai plus disini adalah nggak terlalu rame. Cocok buat
kalian yang emang pengen ketenangan. Bibir pantainya nggak terlalu panjang dan
pasirnya kalo aku liat lebih banyak kerikilnya dibanding pantai lain. Disini juga
bisa nyewa tiker kalo nggak bawa tiker. Satu tiker Cuma Rp 10.000.
Begitu
ngeliat air laut nih kaki rasanya gatel pengen nyemplung. Dari awal kita emang
berencana mau nyemplung si hehe. Jadi setelah ganti baju kami mulai bergelut
sama air laut. Brrr…asin(hloh?) :D
Sekitar
jam setengah duabelas kami mulai ‘mentas’. Disana kalo kalo mandi bayar
Rp2000/orang. Catat, per orang bukan per kamar mandi. Tapi yang bikin aku
merasa miris itu pas aku sholat di musaholanya. Kondisinya kotor dan nggak terawat.
Lantai, bahkan sajadahnya berdebu. Padahal jarak dari tempat kamar mandinya cuma
dua meteran. Kamar mandinya aja bersih dan terlihat terawat, tapi mushola yang
notabene tempat ibadah malah kurang terawat.
Dan
berakhirlah perjalanan kami hari itu. Perjalanan ditutup dengan makan mie ayam
dan…ditilang polisi. Loh kok?
Haha
iya, jadi kami tuh sebenernya nggak terlalu inget jalan. Trus kami nyasar entah
kemana. Karena kurang fokus pas di lampu merah, kami salah jalan dan alhasil
disempriti pakpol haha…terimakasih buat pakpol atas kenang – kenangannya.
Hm…sekian
cerita kali ini, nantikan kisah – kisah yang lain hehe.
Jumat, 26 September 2014
Kisahku Bersama UMMATI
Kehidupan
kampusku tidak akan membosankan.
Kehidupanku
di kota pelajar ini akan lebih bermakna.
Kehidupanku
akan lebih berwarna.
Dan
disinilah aku memulainya.
Semua
berawal di bulan September 2013. Ketika hiruk pikuk mahasiswa baru mulai
mewarnai gedung yang terletak di salah satu sudut Universitas Gadjah Mada. Aktivitas
perkuliahan mulai menyapa hari – hari maba(mahasiswa baru). Banyak diantara
maba yang masih menyesuaikan diri dengan kehidupan kampus yang sama sekali
berbeda dengan masa SMA. Tak heran jika dalam beberapa minggu setelah aktivitas
perkuliahan dimulai masih terdengar sapaan perkenalan. Beberapa telah membentuk
kelompoknya sendiri. Sisanya masih mencari – cari sosok teman yang mungkin akan
menjadi teman yang tak terpisahkan.
Bagaimana
denganku?
Ini
adalah tantangan berat bagiku. Aku terlanjur menyadari bahwa aku bukan orang
yang mudah beradaptasi di lingkungan baru. Jadi aku tidak heran ketika aku
selalu berjalan sendiri di kampus selama hampir satu minggu. Bukannya aku tidak
kenalan dengan teman – teman sekelas, hanya saja ketika sehabis kenalan maka
hanya itu yang terjadi. Aku bukan orang yang pandai mengobrol. Ada sedikit
perasaan iri dengan Alfi, teman sekamarku di asrama yang begitu mudah akrab
dengan orang lain bahkan yang baru dikenal sekalipun. Tipe orang yang supel.
Aku
masih ingat saat itu aku berdoa kepada Tuhan, semoga aku segera mendapatkan
teman dekat di kampus biar aku nggak kemana – mana sendiri. Dan alhamdulillah besoknya
Tuhan mengabulkan doaku. Seorang gadis asal Lamongan bernama Nilda. Entah kenapa
aku baru menyadari kalau kami selama ini sekelas haha…Entah kenapa kami pun
jadi dekat. Pergi ke kampus bareng, pulang bareng, kemana – mana bareng. Meski dia
agak usil kadang – kadang, tapi dia baik dan nggak sombong.
Lalu
suatu hari kami dapat SMS dari Ummati. Isinya menginformasikan tentang kajian
yang akan diadakan pada Kamis sore. Karena dari ospek emang aku udah niat mau
ikut Ummati, jadi aku berencana dateng sekalian mau kepo – kepo. Tak lupa aku
ajak teman baruku juga, dan Nilda dengan senang hati setuju.
Maka
disanalah kami. Sehabis sholat ashar di depan mushola. Dengan langkah malu –
malu dan canggung menerima setiap jabatan tangan dan salam dari ukhti – ukhti yang
ramah. Sungguh sambutan yang hangat. Disanalah aku pertama kali mengenal mba
Lala, yang menjadi Kadept ku saat ini. Sesuai niat awal, aku pun mulai kepo –
kepo tentang kegiatan ummati sama mba Lala. Aku masih ingat bagaimana mba Lala
begitu senang katika aku bilang ingin daftar departemen media, hehe.
Lalu
beberapa minggu kemudian ketika ada pengumuman oprec ummati aku pun dengan
mantap mengambil formulir. Pilihan satu udah pasti Media Ummati, soalnya emang
pengen belajar jurnalistik juga si. Pilihan kedua Foreks. Beberapa waktu
kemudian pengumuman diterima terpajang. Dan…yes, aku diterima di departemen
Media :D
Waktu
terus berjalan. Kuliah tetep berjalan dengan lancar seperti biasa. Kajian ba’da
ashar setiap kamis masih kuikuti. Lalu aku mulai mengenal beberapa kakak –
kakak ummati akhwat dan teman – teman 2013 yang juga mendaftar ummati. Lalu aku
juga mulai mengenal teman – teman satu departemen, mas Rega, mas Ardyan, mba
Dyan, mba Nisa, mas Bondan, mas Ucup, mba Ulfa,mas Wafi, mas Anggar, Aci dan Ciciek,
dan tentu juga mba Lala. Aku sangat senang ketika disini aku diberi kesempatan
untuk pertama kalinya dalam membuat U-Magz. Aku dengan dibantu mba Dyan membuat
bagian riset. Ini pengalaman baru buatku, dan aku sangat antusias. Akhirnya dengan
perjuangan keras U-Magz edisi 1 tahun 2013 terbit. Aku tak berhenti senyum –
senyum ketika tulisanku terpajang manis disana, lengkap dengan namaku. Ini pertama
kalinya, tulisanku dicetak dalam bentuk majalah hehe…walaupun masih majalah
kampus.
Tidak
berapa lama ada Ta’um(Ta’aruf Ummati). Disini jadi kenal sama teman – teman ummati
yang lain. Disinilah tali kasih bernama ukhuwah mulai terajut dengan manis.
Lalu
kabar buruk itu datang. Setelah libur idhul adha, sahabat pertamaku Nilda
mengatakan kalau dia nggak bisa ngelanjutin kuliah di UGM lagi. Aku jelas
kaget, karena kegiatan kuliah baru seumur jagung dan dia tiba – tiba akan
berhenti. Setelah mendengar penjelasannya aku pun hanya bisa berdoa semoga ini
memang jalan terbaik yang dia pilih.
Dan
kehidupan kampusku terus berlanjut. Sudah tidak sesepi sebelumnya karena aku
mulai mengenal banyak teman. Aku juga mulai belajar organisasi di ummati
sedikit demi sedikit. Selain itu aku juga mulai tau bagaimana seharusnya
muslimah berpakaian, alasan kenapa muslimah dianjurkan pakai rok(dulu masih
suka pake celana jeans :p), lalu cara menutup aurat yang baik dan benar, dan
banyak lagi. Intinya aku jadi tau banyak hal yang selama ini aku anggap sepele.
Suatu
hari di bulan Desember aku di SMS buat ikut rapat membahas Rabes. Walaupun aku
sebelumnya nggak tau apa itu Rabes akhirnya aku tetep dateng. Dan voilaaa…aku
diberi amanah jadi panitia Rabes sebagai koor konsumsi. Awalnya rada bingung
soalnya aku kan belum pernah terlibat dalam kepanitiaan sebelumnya. Tapi ya
udah, dicoba aja dulu. Disinilah aku memulai, untuk pertamakalinya dalam sebuah
kepanitiaan.
Dari
sini rasa percaya diriku mulai tumbuh. Aku merasa dihargai dan dibutuhkan. Dan aku
bertekad kalau aku akan bekerja dengan baik dan tidak akan mengecewakan mereka.
Dengan dibimbing mba Panti selaku SC aku pun mulai mengerjakan amanah ini. Aku mulai
belajar mengorganisir tugas dengan teman – teman yang lain, belajar menyusun
timeline, dan pastinya ngomong. Karena sebagai koor otomatis jadi juru bicara
di setiap rapat.
Semua
berjalan lancar. Konsumsi tidak kurang, anggaran juga sesuai. Mungkin masih ada
beberapa kekurangan sedikit, tapi itu wajarlah kan baru pertama hehe…
Setelahnya
aku semakin mantap untuk melangkah bersama Ummati. Berbagai kegiatan membuat
ikatan ukhuwah semakin terjalin erat. Aku mulai nyaman disini, bersama mereka.
Disini
aku belajar untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta.
Disini
aku belajar organisasi.
Disini
aku belajar menjaga amanah.
Disini
aku belajar membuat hidup lebih bermakna.
Disini
aku merasa berharga.
Dan
disini aku merasa seperti menemukan sebuah….keluarga. :D
NB: ngggg...lagi - lagi curhat yah? hehe, the next post mungkin "Kisahku Bersma Kopma UGM". Ada yang mau nungguin? enggak juga gak papa sih :3
Setiap Orang Punya Kisah Sendiri
Sekilas
tadi dengerin curhat mba kos tentang masa kecilnya dulu. Mungkin lebih tepatnya
nguping secara tidak sengaja. Tapi dengan volume yang senyaring itu mau nggak
mau cerita itu juga tertangkap organ pendengaranku.
Mendengar
curhat singkatnya tadi aku jadi memikirkan masa kecilku yang kisahnya kurang
lebih sama. Dari sana aku mulai berpikir dan menyadari satu hal. Setiap orang
punya kisah sendiri.
Mungkin
jarang terpikirkan oleh kita ketika
sedang bersama dengan orang lain, bagaimana masa lalu dia? Kepahitan apa yang
pernah dirasakannya?. Bahkan terkadang kita tidak pernah mengira bahwa orang
yang selama ini terlihat ceria, tegar, dan seolah selalu bahagia juga menyimpan
kisah kelam dimasa lalu.
Memang
sih kebanyakan orang pasti ingin menyimpan kisah masa lalunya untuk sendiri,
tidak untuk diumbar. Tapi ketika mendengar kisah orang lain mau tak mau juga
mengingatkan kita akan kisah kita sendiri.
Pada
dasarnya setiap orang memiliki kisah yang berbeda – beda. Dan dampaknya
terhadap hidup mereka pun berbeda. Tapi maksud yang ingin disampaikan oleh
Tuhan sama. Sebagai pelajaran.
Bagaimana
Setelah membaca sebuah blog dari seorang kakak senior yang sudah sukses disini.
Jadi teringat perbincanganku pertama kali dengannya yang sampai saat ini masih membekas di pikiranku.
Aku mulai berpikir.
Bagaimana rasanya berjalan sendiri?
Bagaimana rasanya melangkah tanpa mengikuti orang lain?
Bagaimana rasanya menyusuri jalan hidup dengan mengikuti kehendak hati?
Senin, 01 September 2014
Sahabat UMMATI
Akhir – akhir ini lagi
seneng ngepost di blog setelah sebelumnya absen entah kemana. Mungkin karena
semua perasaan selama ini cuma numpuk di pikiran jadi begitu ada mood nulis
pengennya ditumpahin semua ke sini.
Sekarang aku udah
semester tiga. Artinya aku udah bukan maba lagi karena udah ada adik – adik tingkat
saya yang kini mulai ‘bergentayangan’ di kampus. Wajah – wajah baru yang tidak
familiar semakin sering ditemui di sekitar kampus.
Aku lalu melihat ke
belakang. Ternyata sudah satu tahun saya disini. Di kampus ini, di kota gudeg
ini, dengan berbekal doa dan restu dari orang tua untuk menuntut ilmu di kampus
ini. Dalam kurun waktu satu tahun ini, apa saja yang telah aku lakukan? Apa saja
perubahan yang telah terjadi?
Satu tahun bukan waktu
yang lama. Namun banyak kenangan yang telah terukir dalam waktu satu tahun ini.
Senang rasanya bisa melalui satu tahun ini dengan lancar. Namun ketika
menyadari waktu satu tahun itu maka aku juga menyadari satu hal. Ada yang
datang, dan ada yang pergi. Ada pertemuan, dan ada perpisahan.
Satu tahun lalu,
ketika status maba masih melekat, ketika euphoria ospek masih terasa, aku
bertemu dengan mereka. Mereka yang menyambutku dengan senyuman dan sapaan
ramah. Rasa hangat seketika menjalar di sanubari ketika wajah – wajah teduh itu
menyambutku. Tidak ada rasa takut, malu, atau tidak nyaman sebagaimana yang
biasanya kurasakan ketika berada di lingkungan baru. Saat itu aku berpikir,
rasanya aku ingin selalu berada disini, diantara mereka. Hingga akhirnya akupun
memutuskan untuk menjadi bagian dari mereka.
Waktu terus berlalu,
hari demi hari, bulan demi bulan, aku mulai hanyut dalam kegiatan perkuliahan. Terkadang
rasa jenuh, lelah, putus asa menggodaku untuk menyerah dan berhenti. Namun ketika
berkumpul dengan mereka, aku menemukan kekuatanku kembali, aku mulai mengerti
alasan aku harus tetap bertahan. Mereka tidak hanya mengajarkanku tentang
agama, tapi mereka juga mengajarkanku akan indahnya sebuah persaudaraan yang
dilandasi dengan cinta kepada Illahi. Dari sinilah aku mulai memperbaiki niat
dan tujuanku. Tak hanya itu, aku pun mulai belajar memahami hakikat hidup yang
sesunggunya. Mereka adalah…sahabat – sahabatku UMMATI.
Mereka adalah orang –
orang yang menginspirasiku. Berkat merekalah kepercayaan diriku perlahan mulai
tumbuh. Bersama dengan mereka aku merasa berharga. Dan aku merasa bersyukur
karena Allah mempertemukanku dengan mereka.
Selama satu tahun ini
banyak kisah yang terukir, banyak emosi yang muncul, tangis dan tawa, senang
dan sedih, kecewa dan bangga, semua terpajang dalam bingkai waktu setahun ini.
Kajian ba’da ashar di lantai dua yang meski kadang hanya dihadiri anak Ummati,
tapi tidak menyurutkan langkah kita untuk terus menebarkan kebaikan di kampus
kita.
Buka puasa bersama, meski dengan menu sederhana namun terasa nikmat
karena kebersamaan yang tercipta.
Wajah – wajah ceria ketika forga.
Kegiatan ILT yang membuat
ukhuwah ini terjalin semakin erat.
Waktu kita untuk
menempuh pendidikan di kampus ini memang tidak panjang. Hanya tiga tahun. Dan mungkin
tidak sampai setahun, kalian kakak – kakak yang selama ini telah membimbing kami
akan lulus. Periode kepemimpinan akan berganti. Entahlah, aku tidak bisa
membayangkan jika tak ada kalian lagi. karena kebersamaan ini sudah seperti keluarga. Pasti…akan kangen sekaliiii…
Tapi ya seperti yang
selalu kalian katakan, semoga setiap pertemuan dan perpisahan yang terjadi atas
ridho Allah. Dan, nantinya jikapun harus berpisah semoga dipertemukan lagi di syurga. Aamiin…
Langganan:
Postingan (Atom)





